“MUKTI UTOWO MATI” Spesial 80 Tahun Indonesia Merdeka

Mukti Utowo Mati” adalah falsafah Jawa yang punya makna kuat dan keras.

Secara harfiah, mukti berarti “kemuliaan” atau “kemakmuran”, sementara mati jelas berarti “kematian”.Frasa ini sering dimaknai sebagai:

Hidup harus diperjuangkan sampai mencapai kemuliaan sejati—jika tidak, lebih baik mati.Dalam falsafah Jawa, ini bukan sekadar slogan berani mati, tetapi sikap hidup total: tidak ada kompromi terhadap kehormatan dan tujuan besar. Ia lahir dari pandangan bahwa hidup tanpa kemuliaan sama saja dengan hidup tanpa makna.

Menulis bukan tempat berteduh. Bukan pelukan hangat untuk luka-luka kecil yang ingin dimanja. Kalau menulis cuma jadi cara menjinakkan badai dalam dada, lebih baik saya patahkan saja pena ini atau remukkan layar gawai ini dengan tangan telanjang. Karena hari ini, menulis bukan soal estetika, ini adalah cara saya menyumpahi dunia, meludahi nasib, dan menyatakan perang paling tenang terhadap kenyataan yang terus menertawakan luka.Saya menulis bukan karena kuat. Saya menulis karena kalau tidak, saya akan menembak kepala saya sendiri. Ini bukan ekspresi artistik—ini pengakuan yang tak pernah butuh pengampunan. Hidup tidak pernah adil, dan saya tidak minta dikasihani. Saya seperti bajingan tua yang ditinggal zaman, terdampar di tengah peradaban, tanpa hari depan, tanpa arah, tanpa siapa pun yang peduli apakah saya sampai atau mati di tengah jalan.

80 Tahun Merdeka, Tapi Republik Masih Menyewa Kebahagiaannya

Kita sering membicarakan kemerdekaan seperti membicarakan cinta lama—penuh nostalgia tapi tak pernah kita urus kembali.

Indonesia hari ini seperti rumah besar yang catnya sudah mengelupas, pintunya berderit, dan gentingnya bocor, tapi pemiliknya masih sibuk mengundang tamu dan memamerkan album foto zaman muda.

Kita rindu pada mukti—kemakmuran yang katanya dijanjikan tanah surga. Tapi yang kita makan setiap hari adalah propaganda yang sudah basi. Kemerdekaan? Mungkin iya di spanduk, di pidato pejabat, dan di siaran TV nasional. Tapi di pasar, di jalanan, di ladang, di pabrik—kemerdekaan terasa seperti utang yang tak pernah lunas.

Rakyat: Merdeka di Bibir, Tersandera di PerutDi perayaan 80 tahun ini,

bendera kembali dikibarkan. Merah putih melambai di tiang bambu, di bahu-bahu pejabat, di layar-layar LED megah. Tapi apa gunanya kibaran itu kalau di meja makan rakyat, lauknya makin tipis, beras makin mahal, dan udara makin penuh asap?Kita lupa, merdeka bukan cuma soal bendera tak lagi dicopot penjajah. Merdeka itu ketika kita tak perlu mengemis hak, tak perlu mengantri subsidi, dan tak perlu takut harga hidup naik lebih cepat daripada gaji.

Mukti atau Mati: Pilihan yang Tak Pernah Kita Ambil

Kita diajarkan untuk mencintai tanah air seperti mencintai ibu sendiri.

Tapi bagaimana mencintai jika ibu ini selalu sibuk merias wajah untuk pesta, sementara dapurnya kosong?

Bagaimana percaya pada janji mukti kalau setiap generasi hanya diwarisi hutang dan masalah?Republik ini tak butuh lagi tepuk tangan basa-basi. Ia butuh warga yang berani menagih janji—atau kita semua akan mati perlahan, di tanah yang katanya surga, tapi terasa seperti ladang kering penuh duri.

Similar Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *