Reminiscene: Refleksi Ingatan Alif Edi Irmawan di Pameran “Madya – The Unfixed Center”

Madya – The unfixed Center” merupakan pameran seni kontemporer yang dilaksanakan di Artspace Artotel TS Suites Surabaya, berlangsung dari 17 Oktober 2025 hingga 17 Januari 2026. Pameran ini diselenggarakan melalui kolaborasi antara Artotel TS Suites dan Indonesia Contemporary Art New Wave (ICANW) untuk memaknai ulang konsep Tengah/Pusat dalam seni.
Kurator pameran, Dwi Nugroho Mukti, menjelaskan bahwa “tengah” kini dilihat sebagai ruang cair yang memungkinkan dialog antar wilayah, generasi, dan praktik artistik yang berbeda. Ia menegaskan, “Hari ini Semua bisa menjadi pusat. Setiap kota, bahkan individu, bisa menjadi episentrum seni baru.”

Seperti salah satu seniman asal kota Pahlawan yang karyanya terpajang di pojok ruang Artspace lantai UG ini. Ia adalah Alif Edi Irmawan, seniman berusia 30 tahunan ini membawa lima karya dengan judul Reminiscene.
Reminiscene Karya Alif Edi Irmawan membicarakan tentang ingatan. Saat ditanya korelasi antara Madya dan ingatan, Alif menjabarkan “Saya merespon tema pameran ini dengan merefleksikan Madya ini seperti apa. Madya kan pusat, kalau kita telisik lebih jauh lagi, saya ingin mengambilnya dari segi sesuatu yang berguna dan berdampak. Untuk bisa kedua hal itu, kita harus instropeksi diri.”

“Karya saya disini merupakan gambaran siklus yang dimana ditandai dengan bulan ini dan tumpang tindihnya gambar – gambar, yang dimana didapatkan dari keseharian yang medianya juga merupakan media daur ulang. Dari situ saya menyambungkannya ke tema Madya yang dimana pusat ¬– saya sebagai pusat seharusnya bisa memberikan dampak yang lebih baik lagi, ya minimal untuk diri saya sendiri sebagai perupa.” Tambahan Alif Edi Irmawan sambil menunjuk ke salah satu karyanya yang paling besar di spot itu.
Bukan tanpa makna Alif Edi Irmawan memilih recyle untuk melengkapi Reminiscene. Alif mulai aktif menerapkan konsep ini sejak dua tahun terakhir, pematiknya ialah saat kota Yogyakarta darurat sampah dan pemerintah kota Yogyakarta mengeluarkan statement sudahlah semuanya diserahkan ke masyarakat saja, sampahnya punya masyarakat kok kenapa kota harus ikut – ikutan.
“Disitu saya mulai sadar, Surabaya tidak harus menunggu seperti Yogyakarta. Surabaya harus mulai dulu, ya dari kita – kita ini. Sadar lebih dulu.” Tegasnya.
Selain seorang seniman, Alif Edi Irmawan juga merupakan guru seni lukis di SMKN 12 Surabaya. Dari kesehariannya menjadi guru ia ‘menularkan’ konsep recycle kepada anak didiknya, untuk menciptakan sebuah karya seni kita bisa menggunakan benda disekitar kita yang mungkin terlihat remeh temeh.
“Guru itu kan di gugu lan di tiru. Saya percaya setiap hal baik yang saya berikan kepada teman – teman (anak didik) pasti akan disambut, yang penting nilainya positif. Toh guru juga pastinya akan memberikan yang terbaik.” Tutur Alif didepan tiga anak didiknya yang hadir dipembukaan pameran tersebut.
Reminiscene membawa sebuah kesadaran untuk lebih mawas diri, pengingat untuk menyadari kata cukup agar masa depan lingkungan ini menjadi lebih baik lagi dan sustainable dari upaya sederhana kita, itulah harapan Alif Edi Irmawan untuk para pengunjung pameran seni kontemporer Mayda – The unfixed Center terutama saat melihat karyanya.***
