[Cerpen] Teman (Musuh) Lama – 05

Tahun 2011 di salah satu SMP Negeri, Surabaya.

Masa-masa SMP merupakan masa yang paling ambisius untuk aku, masa pencarian jati diri, pengkhianatan sebuah hubungan pertemanan, dan mencari makna sesuatu yang aku sebut sebagai "Rumah".

Baru kelas 1 di SMP sudah memiliki potensi untuk menjadi ketua OSIS dan memancarkan sinarnya di hadapan bapak guru pembimbing OSIS di SMP.

Tingkat kekuasaan tertinggi adalah incaranku waktu itu.

"Za, kamu kalau diangkat menjadi ketua OSIS, apa yang ingin kamu lakukan?" Ucap Pak Shodiq, guru pembimbing OSIS.

"Saya ingin memajukan sekolah ini, pak dengan menambah beberapa ekstrakulikuler seperti Badminton, English Club dan lain-lain untuk menambah prestasi di sekolah ini" Ucapku saat itu.

"Bohong! Bukan itu yang kamu mau kan? Hahaha!" Ucapnya.

Melihat tatapan Pak Shodiq waktu itu, beliau menatapku seakan-akan aku yang akan menjadi ketua OSIS termuda di sekolah ini dan keesokan harinya, isu tentangku yang akan menjadi ketua OSIS tersebar.

"Rencanamu berjalan dengan sempurna. Hahahaha! Teruskan? Mari kita kuasai sekolah ini!" Ucapnya.

Singkat cerita, aku menjalani dua proses untuk menjadi ketua OSIS dengan lancar, yaitu LDKS tingkat region dan LDKS tingkat kota.

Sampai suatu saat karena aku terlalu mengatur banyak kelas, aku berantem dengan salah satu ketua kelas 2. Isu ini kesebar hingga di kedua telinga orang tuaku.

Di rumah, aku dimarahi habis-habisan, dibilang arogan, egois, seenaknya. Aku tidak menolak omongan orang tuaku karena faktanya begitu. Hingga akhirnya, Ayahku datang ke sekolah untuk menandatangani surat pernyataan kesalahanku.

Hari itu juga setelah upacara bendera, aku mendatangi ruang Pak Shodiq untuk meminta pengunduran diri dan pembatalan pencalonan ketua OSISku.

Cerita di tahun 2011 masih membekas dan belum selesai hingga terbawa di masa kuliahku ini tapi yang menjadi pembeda, aku berhasil meredamnya dan haus akan kekuasaan di diriku sudah mati.

Diriku di tahun 2011 muncul di sebuah cermin pikiranku.

"Selamat, Mas ya. Akhirnya Mas bisa mengontrol si Arogan. Maafkan aku. Mas bisa menyalahkanku atas semua ini." Ucapnya dan setelah itu menghilang dengan goresan senyuman di wajahnya.

Tahun 2019 di salah satu perguruan tinggi negeri, Surabaya.

"Rek, minta tolong dong tugas kelompoknya" Ucap Rizaldy di Line

"Rek, tugas kelompoknya" Ucapnya lagi.

"Rek, tolong bantu" Ucapnya lagi. Tidak ada yang menjawab dan membantunya menyelesaikan tugas mata kuliah skill, padahal itu tugas kelompok.

"Kamu kan udah ngerjain bagianmu, Za. Gak usah dibantu." si Arogan muncul dan berbicara di kepalaku.

"Kamu bisa ngerjain sendiri tugas itu dengan mudah tanpa bantuan mereka kan? Kenapa dia gak bisa?" Ucapnya.

Setiap kali Si Arogan itu muncul, mataku merasakan panas.

"Apakah perlu aku bantu?" Tanpa sadar ucapan itu keluar dari mulutku.

"Bukan kah itu mudah sekali?" Ucapku lagi.

"Terima kasih sudah mau aku kontrol lagi, Reza" Ucap si Arogan.

Si Arogan tetap muncul di kepalaku hingga dua hari dan kedua mataku entah kenapa terasa lelah dan berat. Ingin sekali aku tidur, setiap si Arogan muncul seakan-akan aku tidak pernah tidur.

Dua hari berlalu dan aku masih belum bisa menghilangkannya?!

- Reza Fernanda. 23 Januari 2018, Surabaya.

Similar Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *