Seberapa Penting Sih Paham Politik?Sebelum Bicara membabi buta.
Oleh Bayu Lindu Mukti — Mahasiswa Multinasional Gelar Ganda Hukum Tata Negara di UIN Sunan Ampel Surabaya & UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Harga argumen rakyat? 50 rb perkepala
“Lo tahu gak sih… Mesir tuh… bla bla bla…”Kalimat seperti itu mungkin sering berseliweran di TikTok, Twitter, atau Instagram Reels. Ujaran keras, penuh emosi, disampaikan dengan penuh percaya diri oleh figur berpengaruh—tanpa satu pun sumber resmi yang dikutip. Lebih parah, tak jarang mereka yang bicara bukan pakar, bukan saksi, bahkan bukan pembelajar serius. Mereka hanya punya satu hal: pengikut. Di zaman algoritma hari ini, influencer bisa jadi opini publik.Yang viral sering kali dianggap benar, yang terdengar lantang jadi seolah sahih. Tapi apakah semua itu cukup?— Politik Bukan Sekadar Bicara Kita hidup di era di mana politik dianggap bisa dibahas sambil rebahan. Dimainkan seperti konten receh, dikomentari seperti sinetron. Padahal politik bukan perkara “suka atau nggak suka,” tapi menyangkut struktur negara, hak asasi manusia, sistem pemerintahan, dan masa depan bangsa.Ambil contoh soal Mesir. Negara ini tak bisa dibaca hanya dari satu potongan video atau satu sudut pengamatan turis. Ada sejarah panjang, geopolitik rumit, dan realitas internal yang tidak bisa dicerna dalam satu menit konten. Apalagi jika opini yang keluar penuh kemarahan, tapi kosong referensi.—
Ketika Influencer Jadi “Ahli Instan”
Belakangan, ramai sejumlah influencer Indonesia yang menyerang kebijakan luar negeri Mesir—khususnya terkait isu Palestina—dengan narasi satu arah. Tanpa data diplomasi, tanpa membaca peta kawasan, tanpa mempertimbangkan posisi strategis Mesir yang rumit, mereka menyebar tuduhan: “Mesir mengkhianati Palestina,” “Mesir membiarkan penderitaan,” atau bahkan “Mesir hanya pura-pura peduli.”Pernyataan itu, meskipun terdengar heroik, bermasalah. Mengapa?
1. Mereka mengabaikan posisi Mesir sebagai satu-satunya negara yang membuka perbatasan Rafah secara terbatas—sementara Israel justru menutup semua akses.
2. Mereka tak membahas diplomasi rahasia dan tekanan geopolitik dari kekuatan besar, yang membuat posisi Mesir tidak sesederhana ‘bisa atau tidak bisa bertindak’.
3. Mereka mempersoalkan tanpa melihat konstitusi, UU darurat, dan kompleksitas internal Mesir, termasuk stabilitas pasca-Arab Spring.Dan yang paling fatal: mereka menyampaikan itu tanpa klarifikasi, tanpa sumber, dan tanpa akuntabilitas.Kebebasan Bicara, Tapi Jangan Buta Ya, kita semua punya hak berpendapat. Tapi ada perbedaan besar antara hak bicara dan bicara dengan bertanggung jawab.Penting untuk dipahami: semakin banyak orang yang mendengarkanmu, semakin besar tanggung jawabmu. Apalagi dalam isu politik luar negeri.Apalagi jika menyangkut martabat negara lain.Jika kita terbiasa menyerang negara lain hanya karena tidak sesuai dengan narasi pribadi, lalu apa bedanya kita dengan buzzer yang selama ini kita kritik?— Kritik Itu Perlu, Tapi Harus Tahu Jalannya Sebagai mahasiswa hukum tata negara, saya sangat percaya pentingnya kritik. Tapi kritik dalam politik tidak bisa asal teriak. Kritik harus berdasar, terstruktur, dan paham sistem.Contoh: Jika ingin mengkritik Mesir, maka pahami dulu bagaimana struktur otoritas di sana. Siapa yang bertanggung jawab atas diplomasi? Bagaimana peta kekuatan dalam negeri dan militer? Apa hubungan Mesir dengan negara-negara Teluk dan barat? Apa dampak domestik jika Mesir mengambil langkah yang ekstrem?Tanpa semua itu, kritik hanya jadi umpatan. Dan umpatan bukan kritik, tapi kemarahan yang tak menyelesaikan apa-apa.— Lalu, Kita Harus Gimana?
1. Pahami dulu. Jangan ikut panas kalau belum membaca utuh. Buka laporan resmi, baca pendapat para pakar, dan lihat peristiwa dari berbagai sisi.
2.Jangan ikut menyebarkan. Kalau ada konten viral yang provokatif tapi dangkal, cukup simpan. Jangan ikut share hanya karena emosi.
3. Bangun diskusi yang sehat. Kita bisa kok berdialog tentang Mesir, Palestina, bahkan pemerintah Indonesia sendiri—asal dengan adab, data, dan nalar.-Penutup: Kita Butuh Melek, Bukan Galak Boleh saja galak pada ketidakadilan, tapi jangan jadi galak karena ikut-ikutan.Boleh mengkritik negara manapun, tapi jangan sampai membabi buta lalu melukai martabat bangsa lain tanpa dasar.Karena politik itu bukan soal benar atau salah versi pribadi. Politik adalah soal bagaimana menjaga keberimbangan di tengah kompleksitas realitas.Dan jika ingin bicara politik, mulailah dari membaca, bukan menghakimi.Mulailah dari paham, bukan panik.Mulailah dari tanggung jawab, bukan popularitas.
Tentang Penulis:Bayu Lindu Mukti adalah mahasiswa multinasional gelar ganda Hukum Tata Negara di UIN Sunan Ampel Surabaya dan UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Tertarik pada relasi antara etika politik, diplomasi kawasan, dan literasi publik di era digital.
