Sabdo Palon noyo Genggong menggugat prabu Fir’aun

(Dialog kutukan antara sphinx & semar badranaya)

oleh : B. Lindu Mukti

“Dalam sejarah, yang bisu adalah rakyat.

Dan para dewa? Mereka cuma dalih bagi kejahatan.”Aku Sabdo Palon.Yang dijatuhkan dari lembah sejarah,dibuang di catatan kaki peradaban.Aku, suara dari lereng gunung yang tak selesai-selesai menakar kemarahan.Dan engkau—Prabu Firaun,penjaga istana yang tinggi menjulangdari batu-batu kutukan dan kesombongan manusia.Engkau anggap rakyat adalah tanah liat—dibentuk, dibakar, dan dibanting sesuai kehendakmu.Tapi aku datang,bersama Noyo Genggong,dari tanah Jawa yang dijajah oleh banyak nama,dari reruntuhan kerajaan yang ditukar dengan lembaran upeti dan kitab-kitab kosong.Engkau pikir kekuasaan abadi?Engkau pikir sungai Nil akan selalu menyanyikan pujianmu?Lihat!Mesir kini hanya bayang di museum,dan jasadmu dikerubungi para pelancong haus selfie,bukan rakyat yang menangis dalam doa.Kami bukan nabi.Kami tak membawa wahyu.Kami hanya membawa luka-luka sejarahyang menolak disembuhkan dengan dongeng.Firaun,kami tidak datang untuk menantang.Kami datang untuk menyampaikan—bahwa rakyat bukan tanah liat.Mereka adalah sungai: mengalir, meluap,dan bila ditahan,akan menghancurkan bendunganmu.Aku Sabdo Palon.Aku tidak mati.Aku hanya menunggu saat yang tepat,untuk mencatat ulang sejarahdengan pena yang tidak takut darah.Dan Genggong,masih meniupkan suling dari lorong-lorong pesantren,dari mulut anak-anak miskin yang tumbuh jadi pemberontak.Kami menggugat,karena diam adalah pengkhianatan.—>

“Dan setiap zaman punya Firaunnya.> Tapi jangan lupa, selalu lahir Musa dari jeritan ibu-ibu nelayan dan petani.”

Dialog kutukan sphinx & semar Badranaya

“Kutukan Dua Penjaga Zaman”(Dialog antara Sphinx & Semar Badranaya di atas gurun dan Gunung Merapi)\[ADEGAN DIBUKA]

Langit remang-remang, antara gurun dan lereng gunung. Di tengah pusaran waktu, Sphinx muncul dari pasir yang berderak. Semar muncul dari kabut gunung dengan suara kendang gaib.

SPHINX

(angkuh, suaranya bergetar gurun)Siapakah engkau, makhluk berhidung pesek, bertubuh tambun,berani menginjak pasir tempat para dewa Mesir dikubur?

SEMAR

(lembut tapi menusuk)Aku adalah angin dari timur,yang sejak mula menjaga rembulan agar tak ditelan rakus matahari.Kau Sphinx, batu penjaga teka-teki,namun lupa: teka-tekimu sudah basi bagi anak-anak kampungku.

SPHINX

(tertawa getir)Kau pemomong? Kau pelawak langit?Apa kau kira tawa bisa menggulingkan tirani?Apa lakon wayangmu bisa menebus sungai Nil yang berdarah?

SEMAR

(berdiri tegak, bayangannya membesar)Tawa adalah senjata kami,karena air mata telah kering dicuri raja-raja.Wayangku adalah naskah zaman:Duryudana bisa menjelma Firaun,dan Rahwana bisa pakai jas berdasi.

SPHINX

(mendesis, angin panas berputar)Kau datang membawa kutukan?Kutukan dari Jawa untuk Mesir?

SEMAR

Tidak…Aku datang membawa cermin.Agar engkau lihat wajahmu sendiri—penjaga rahasia para pembunuh rakyatmu.

SPHINX(gelisah, pasir menari)Engkau menuduh?Aku hanya penjaga… aku tak pernah berkuasa!

SEMAR Penjaga diam adalah pelayan kekuasaan.Kau bisu seribu tahun,sementara firaun tumbuh dari rahim sejarah palsu.Kini kutukanku padamu:”Bangunlah, dan berkata. Atau tenggelam dalam bisumu sendiri.”

SPHINX

(terduduk perlahan)Dan apa balasan kutukanku padamu, Semar?Pemomong yang dijadikan simbol, namun diasingkan dari istana?

SEMAR

(kepalanya menunduk, mata menyala)Kutukilah aku, agar aku tetap waspada.Sebab tiap kutukan dari penguasa,adalah anugerah bagi penjaga nurani.

-[ADEGAN BERAKHIR]

Langit menggelegar. Petir menyambar puncak gunung dan gurun.Sphinx meneteskan satu air mata batu.Semar menunduk, lalu menghilang ke arah timur.Hening. Tapi bumi terasa berubah.

Similar Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *