[Cerpen] Abu-Abu dan Kematian – 03

Cerita ini bersetting sebelum aku menjadi host warawaraproject dan terjun ke dunia review film di youtube. Disinilah aku menciptakan "teman" di setiap konflik batinku

Minggu ini masih liburan semester 2 dan aku harus menunggu 3 minggu lagi untuk bisa masuk perkuliahan. Yang kulakukan hanya bisa tidur, makan, tidur, makan. Begitu seterusnya. Dari sisi lain, emang ini enak tapi dari sisi lain juga, ini menyiksa. Kepalaku mulai pusing dan sakit aku coba baringkan tubuhku di kasur dan menutup mata. Siapa tau aku dapat inspirasi buat mengisi liburan ini biar gak seratus persen nganggur.

Akhirnya aku kembali ke alam pikiranku yang serba
putih tanpa batas ini, ku termenung di suatu tebing. Yang kulihat di depanku sekarang adalah danau yang luas, danau ini adalah tempat dimana semua kenangan, moment, memori terperangkap dan terlepas karena proses penguapan seiring bertambahnya umurku. Warna danaunya tidak bening tapi biru. Alam pikiranku memang tidak selaras dengan hukum alam, seakan Alam pikiranku memiliki hukumnya sendiri yang mana hanya aku seorang yang mampu memahaminya.

"Hei" ucap seseorang dengan suara yang sama sepertiku
"Siapa?" Pikirku
"Kamu mau mati sekarang gak?" Ucapnya
Aku kaget dan langsung menoleh ke sumber suara itu. Aku berdiri menghadapnya. Seluruh tubuhnya abu abu dengan ekspresi wajah datar. Faktanya warna abu abu adalah warna kesukaanku tapi entah kenapa kali ini aku tidak menyukainya.
"Aku adalah sebab kedua alasan kenapa kamu bisa mati. Kamu ingin jalan pintas kan? Pegang tanganku" ucapnya seraya menjulurkan tangannya.
Tanganku dengan reflek menyentuh tangannya dan semua pikiranku langsung terisi oleh banyak cara untuk bunuh diri. Mengiris tangan dengan pisau, gantung diri, jatuh dari lt 3 kampus, dll. Dengan cepat aku melepaskan tanganku dari tangannya.

"Untuk apa kamu hidup? Kamu bahkan tidak berarti di dunia ini. Bayangkan kalo kamu gak kuliah sekarang, Kamu jadi apa?pengangguran? Ikut denganku dan aku akan menunjukkan jalan pintas untuk bertemu Dia" jelasnya.

Entah kenapa aku seperti terhipnotis olehnya, selalu setuju dengan semua ucapannya.

Di belakangku tiba tiba ada yang berteriak.

"ZA, JANGAN IKUT DENGANNYA!! KAMI MASIH BUTUH KAMU!"

Aku menoleh ke arah sumber suara. Ternyata

orang-orang yang telah terekam di , danau, memoriku melihat ke arahku. Tatapan mereka seakan meyakinkanku untuk terus hidup, meyakinkanku untuk terus menjadi kuat. Belum sempat aku menoleh ke arahnya. Aku didorong lalu jatuh dalam danau memoriku sendiri.

Aku mencoba untuk meraih permukaan tapi sepertinya ada yang menarikku ,untuk tenggelam dan larut dalam banyak memori, untuk bertemu dengan orang-orang yang masih mengandalkanku dan bayangan jika aku ikut dengannya untuk bunuh diri.

Di dasar danau aku menemukan sebuah pintu cokelat.
"Tok-tok"
Ada yang mengetuk. Aku pun menarik ganggang pintu dan terbuka. Muncullah diriku yang lain tapi yang menjadi pembeda adalah mata miliknya merah.
"Mulai sekarang, ayo kita bekerja sama" ucapnya tanpa membiarkanku bertanya siapa dia.
Dia menarikku hingga ke permukaan danau.sesampainya kami di tepi danau, kami mencoba untuk mengambil nafas sejenak.

"Disaat kamu membutuhkanku, aku akan muncul" ucapnya dengan nafas terengah-engah.

"Kamu masih mau mempertimbangkan tawaranku untuk mati?" Ucap seseorang dari belakang. Kami menoleh bersamaan ke orang itu.

Dia pun membalas tatapan Diriku yg sedang berdiri di sebelahku.

"Oh sepertinya aku sudah mengerti. Ingat, Reza. Aku bisa saja kembali kapanpun aku mau. Sampai bertemu" dia pun menghilang sscara perlahan. Kami pun bernafas lega.

"Kamu tau siapa dia?" Tanyaku.
"Kenapa kamu bertanya jika kamu sudah tau jawabannya" ucapnya. Baru sedetik aku mengalihkan pandanganku ke arah lain, Dia juga sudah menghilang.

- Reza Fernanda. 23 Januari 2018, Surabaya.

Similar Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *