"Bisa kah aku pergi ke masa depan untuk menyampaikan sesuatu?"
Lalu aku bangkit dari dudukku dan membalikkan badan. Seketika itu aku menemukan pintu cokelat dengan papan nama disitu bertuliskan "Mirai" yang berarti Masa Depan dalam bahasa jepang.
"Sangat membantu sekali". Ketika hendak menyentuh ganggang pintu,
"Menurutmu kamu mau pergi kemana, hah?"
Aku sangat mengenali suara itu. Suara yang persis denganku tanpa ada kurang atau pun lebih.
"Kesinilah. Aku mau bicara dengan aku di masa depan" ucapku tanpa berbohong kepadanya karena percuma, dia tau semua apa yang ada dipikiranku dan rencana yang aku buat ketika aku bertemu dia. Aku balikkan badanku membelakangi pintu dan sekarang aku berhadapan dengannya.
"That's a bullshit, za! Kamu tau kamu gak bisa kan?" Ucapnya
"Bukan kah kita sama sama gak tau apa yang ada di balik pintu ini?"
"Iyap, tapi kalau aku,aku gak bakal buka karena ya percuma. Pesanku, jangan pernah mencari tau apa yg akan terjadi di masa depan, waktu itu sensitif, sedikit kamu merubahnya,semua waktu akan terpengaruh. Biarkan masa depan menjadi misteri, jadikan masa lalu sebagai batu loncatanmu" ucapnya.
Dia adalah aku, bukan dari waktu manapun. Dia adalah musuhku, temanku, pengingatku ketika salah, pengingatku ketika aku melakukan sesuatu yg sering membuat aku malu. Dia pertama kali muncul ketika aku berada di titik terendah dalam hidupku lalu kucampur adukkan sedikit imajinasiku sehingga yang beda dari kami adalah dia memiliki mata yang merah. Singkatnya, dia adalah imajinasi yang paling real yang pernah aku ciptakan.
"Kamu tau, aku tetap akan melakukannya" ucapku dengan cepat membalikkan badan dan membuka pintu masa depan yang aku cari.
"Jangan-" ucapnya tapi semuanya terlambat. Pintu itu sudah terbuka dengan lebar. Kita berdua kaget.
Ternyata gak ada isinya, seakan akan ini hanya sebuah pintu tanpa ada ruang di baliknya.
"Setelah semua ini, kita hanya manusia yg gak bisa tau, apa yang ada di masa depan. Ganbare yo (semangat ya) dan lihatlah kemari"
Aku memutar badanku dan aku melihat semua Diriku yang telah memberikan pesan dari masa lalu akhirnya berbaris dengan senyum yang terlukiskan di wajah mereka.
"Cukup lihat kami saja!" Ucap mereka berbarengan.
Kedua ujung bibirku terangkat perlahan membentuk sebuah senyum yang selama ini menjadi topeng andalanku, air mataku akhirnya jatuh.
"Terima..kasih" ucapku terharu.
Satu per satu dari mereka menghilang dengan tersenyum begitu pun dengan Imajinasi Diriku.
"Aku gak akan kemana-mana. Kamu akan selalu membutuhkanku. Ada waktu dimana, aku akan mengucapkan selamat tinggal juga" ucapnya.
"Iya, aku mengerti kok" balasku sambil mengusap air mataku tadi dan dia pun menghilang
“Terima kasih sudah menjadi seseorang yang lebih sabar, lebih bisa menerima perbedaan, lebih kuat, jadilah seseorang yang lebih hebat dari dirimu sekarang” Ucap…
Tahun 2011 di salah satu SMP Negeri, Surabaya.Masa-masa SMP merupakan masa yang paling ambisius untuk aku, masa pencarian jati diri, pengkhianatan sebuah hubungan…
Sejak menghilangnya dia, si Abu-Abu, membuatku yakin untuk berjalan maju dan melihat ke belakang jika diperlukan. 3 bulan berlalu sejak menghilangnya dia, aku…
Cerita ini bersetting sebelum aku menjadi host warawaraproject dan terjun ke dunia review film di youtube. Disinilah aku menciptakan “teman” di setiap konflik…