‘Hantu Laut’, Biennale Jatim 2025 Angkat Isu Pesisir Gresik yang Berubah
GRESIK – Laut tak lagi sama. Itulah kesan pertama ketika mengunjungi Pudak Galeri Gresik, tempat digelarnya pameran Biennale Jatim 2025 dengan tema “Hantu Laut: The Specter of The Sea”. Pameran ini berlangsung mulai 24 Agustus sampai 20 September 2025 dan menghadirkan 67 seniman dari berbagai daerah bahkan luar negeri.
Nama “Hantu Laut” sendiri terinspirasi dari tulisan sederhana yang ditemukan di lambung kapal nelayan di Sindujoyo. Dari coretan itulah lahir gagasan besar: membicarakan “hantu-hantu” yang menghantui masyarakat pesisir. Mulai dari limbah industri, udara yang makin panas, sampai aturan baru yang bikin nelayan harus putar otak.

“Perbedaan latar belakang menimbulkan banyak sudut pandang. Para kurator punya banyak pandangan,” kata Vini, salah satu kurator pameran, ketika ditemui seusai sesi pembukaan. Menurutnya, kolaborasi ini membuat pameran terasa hidup. Ada karya instalasi, foto dokumenter, sampai performa seni yang mengajak pengunjung lebih dekat dengan realita pesisir.
Salah satu karya yang menarik perhatian adalah dokumentasi tentang cara warga mengakali panas ekstrem. Mereka membuat kerai dari bambu agar rumah lebih teduh. “Itu sebenarnya praktik seni juga. Kreatif dan sangat kontekstual,” tambah Vini sambil tersenyum.
Meski mengusung kata “hantu”, pameran ini tidak berusaha menakut-nakuti pengunjung. Justru, banyak karya yang menampilkan hantu sebagai pemandu. Misalnya, karya seniman Pacitan yang mengangkat mitos gunung merapi bawah laut, atau karya lain yang menceritakan tradisi leluhur menjaga pantai. Semua ini mengajak kita untuk memahami bahwa laut dan manusia punya hubungan yang lebih dalam daripada sekadar ruang ekonomi.

Pameran “Hantu Laut” ini bukan hanya soal karya seni yang dipajang. Lebih dari itu, ini adalah ajakan untuk melihat kembali laut dan pesisir sebagai ruang hidup yang harus dijaga. Melalui karya-karya seniman, pameran ini mengajak kita untuk merenungi hubungan kompleks antara manusia, alam, dan industri.

Jadi, kalau akhir pekan ini ke Gresik, tidak ada salahnya mampir ke Pudak Galeri. Siapa tahu, setelah melihat “Hantu Laut”, kita jadi lebih paham bahwa laut bukan hanya ombak dan pasir, tetapi juga sebuah refleksi mendalam tentang perubahan sosial dan lingkungan yang terjadi di lanskap pesisir
