KEBODOHAN PEMBUNUH: Dulu di Mughal kini di Indonesia (Jejak antropologi Aurangzeb)

Kisah kehancuran Dinasti Mughal, sebuah imperium yang pernah sangat gemilang di anak benua India, bukanlah akibat serbuan musuh dari luar.

Sebaliknya, kejatuhan mereka adalah bukti nyata bahwa kebodohan adalah musuh sejati bangsa. Pelajaran ini, yang terukir dalam sejarah Kaisar Aurangzeb, sangat relevan dengan realitas Indonesia saat ini, di mana atasan adu domba dan masyarakat bodoh menjadi racun yang menggerogoti peradaban dari dalam.Warisan pembangunan yang agung dari Dinasti Mughal, yang mencapai puncak kejayaan di bawah Kaisar Syah Jahan, harus runtuh ketika putranya,

Aurangzeb, mengambil alih tahta. Magnum opus, atau karya agung, dari era ini adalah Taj Mahal, sebuah simbol kekuasaan yang beradab dan toleran. Namun, Aurangzeb adalah seorang fundamentalis, yang menerapkan fundamentalisme agama secara ekstrem, yaitu keyakinan bahwa ajaran agama harus diterapkan secara harfiah dan tanpa kompromi. Ia memimpin dengan tangan besi, membatalkan kebijakan toleran ayahnya, menghancurkan kuil-kuil non-Muslim, dan memaksakan pajak diskriminatif.

Kebijakan-kebijakan ini, yang didasari oleh keyakinan buta, memicu pemberontakan yang merajalela dan akhirnya memecah belah persatuan kekaisaran. Secara antropologis, tindakan Aurangzeb adalah perwujudan kebodohan. Ia gagal memahami bahwa keberagaman adalah kekuatan, bukan kelemahan. Alih-alih merangkul pluralisme, ia menancapkan paku pertama pada peti mati Mughal. Kebodohan ini bukan sekadar ketidaktahuan, melainkan kebebalan nurani yang menolak untuk melihat realitas di luar keyakinan sempitnya.

Tragedi Aurangzeb menemukan kemiripannya di Indonesia, di mana pembodohan nurani menjadi alat utama para elit untuk mengadu domba. Mereka memanfaatkan politik identitas dan narasi kebencian untuk memecah belah masyarakat demi kepentingan kekuasaan. Skenario ini berjalan mulus karena masyarakat Indonesia sendiri sering kali rentan terhadap pembodohan massal. Kita dengan mudah terprovokasi, menganggap kelompok lain sebagai musuh, dan kehilangan akal sehat dalam pusaran polarisasi. Korelasi antara kejatuhan Mughal dan kondisi Indonesia jelas: mirip dengan Aurangzeb yang menggunakan agama untuk memecah belah kekaisaran, para elit politik di Indonesia menggunakan isu

SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan) untuk mengadu domba. Mereka mengobarkan sentimen kebencian dan memanfaatkan keyakinan masyarakat untuk mencapai tujuan politiknya, sementara masyarakat cenderung menelan mentah-mentah informasi yang disajikan. Ketidakmauan untuk memverifikasi berita, emosi yang mudah tersulut, dan minimnya literasi kritis membuat kita menjadi sasaran empuk untuk propaganda dan berita palsu.Selain politik adu domba, kemiskinan juga berperan dalam melestarikan kebodohan.

Kemiskinan bukan hanya masalah ekonomi, tetapi juga degradasi moral yang meruntuhkan sistem moralitas bangsa. Saat perut lapar dan kebutuhan mendesak, moralitas sering kali menjadi barang mewah yang tak terjangkau. Korupsi dan tindakan tidak etis lainnya menjadi pilihan untuk bertahan hidup, menciptakan siklus kehancuran yang tak berkesudahan.

Mengakui kebodohan sebagai musuh utama merupakan kiat untuk bangkit dari keterpurukan. Jalan keluarnya adalah dengan mengembalikan akal sehat dan nurani sebagai panduan utama dalam setiap langkah. Hanya dengan cara itulah, kita bisa mengakhiri siklus kehancuran ini dan membangun peradaban yang berlandaskan kearifan dan kemanusiaan.

“Aku telah berbuat dosa besar, dan aku tidak tahu hukuman apa yang akan menimpaku”

Ilustrasi: Aurangzeb (alamgir I)

Similar Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *