Menyusun Kembali Ruang Diskusi Ramah Perempuan

–2018, Selama tiga tahun terakhir, saya telah mengarungi beragam ruang diskusi. Perjumpaan dengan banyak kepala membawa saya pada satu kesadaran penting, yaitu perempuan hadir, bersuara, dan berpikir dengan cara yang tidak kalah kuat dari laki-laki. Namun, kehadiran mereka dalam forum-forum diskusi kerap terpinggirkan. Bukan karena ketidakmampuan, melainkan karena desain ruang diskusi yang tidak ramah perempuan.

Dalam kultur diskusi yang didominasi laki-laki, ada kebiasaan-kebiasaan yang terlihat “biasa” namun sebenarnya eksklusif. Salah satunya adalah kebiasaan merokok dalam ruang diskusi. Argumen kebebasan personal sering dilontarkan oleh perokok laki-laki. Namun, kebebasan macam apa yang melukai kenyamanan orang lain? Bagi sebagian perempuan, asap rokok bukan sekadar bau tak sedap. itu adalah simbol pengabaian dan dominasi ruang oleh maskulinitas yang tak mau mengalah. Ketika diskusi menjadi arena berbau tembakau, ia menjadi ruang yang tidak ramah, bahkan menjauhkan sebagian calon peserta sejak dari ambang pintu.

Masalah lain muncul karena waktu diskusi yang tidak inklusif. Banyak forum diskusi berlangsung larut malam, dengan dalih kenyamanan dan “kebiasaan laki-laki”. Lalu, ketika perempuan absen, muncul komentar “Makanya ikut diskusi biar paham.” atau “Kenapa perempuan jaman sekarang tidak sepintar Kartini.” Pernyataan yang tampak peduli, namun sejatinya menyalahkan. Mari kita coba evaluasi, banyak perempuan hidup dalam struktur sosial yang menuntut mereka mengelola waktu secara ketat: mengurus rumah, belajar, atau menjaga diri dari risiko keluar malam. Diskusi yang baru dimulai ba’danya ba’da Isya dan berlanjut hingga lebih dari tengah malam adalah privilese yang tidak semua orang bisa ikuti. Tidak bijak rasanya menyindir perempuan tidak pernah ikut serta dalam forum forum diskusi, apalagi jika tidak pernah ada upaya untuk mendesain ruang diskusi yang bisa diakses semua kalangan.

Di banyak ruang diskusi, lelucon dengan muatan seksual atau komentar ambigu yang diarahkan ke peserta perempuan kerap dianggap “bumbu” untuk mencairkan suasana. Bahkan, ketika seorang perempuan menegur, respons yang muncul: kamu terlalu sensitif, tak bisa diajak santai. Padahal, ini bukan soal selera humor, melainkan soal martabat. Diskusi beralih dari ajang unjuk intelektual menjadi ajang canda yang mengeksplorasi kekerasan simbolik. Hal itu membuat perempuan merasa diawasi, dijadikan objek, bukan subjek dalam ruang berpikir bersama. Yang menjijikkan bukan candanya, tapi ketidaksadaran pelakunya.

Maka, ketika perempuan jarang hadir di ruang diskusi, yang dibutuhkan bukanlah olok-olok, tudingan, atau kekecewaan, melainkan empati. Tidak semua absensi berarti apatisme. Kadang, ketidakhadiran adalah hasil dari eksklusi sistematis yang tidak kita sadari: dari asap rokok, jadwal tidak inklusif, hingga candaan yang tak pantas. Mengajak perempuan berdiskusi bukan hanya sekadar memberi undangan, tapi menciptakan atmosfer yang aman, nyaman, dan setara.

Diskusi semestinya menjadi ruang emansipatoris, bukan hanya secara isi, tapi juga dalam bentuk dan suasana. Tidak cukup hanya dengan mengatakan “perempuan boleh bicara”, jika ruang dan cara bicara tetap didominasi standar maskulin. Ruang diskusi yang sungguh-sungguh ramah terhadap perempuan bukan hanya soal kehadiran mereka, tapi juga tentang bagaimana pengalaman, kebutuhan, dan kenyamanan mereka menjadi bagian dari desain ruang itu sendiri.

Tentu, tidak semua perempuan merasa terganggu oleh asap rokok. Ada yang santai saja duduk di antara kabut tembakau. Ada yang bahkan menggenggam batang itu sendiri lalu mengisapnya. Tapi ada juga yang tidak tahan. Ada yang hanya mencium baunya di kerah baju lalu dimarahi orang tuanya. Ada juga yang ketar-ketir sebelum pulang sebab tubuhnya sedang membawa aroma yang akan mengundang curiga.

Maka jangan ukur keberhasilan forum dari berapa kursi yang terisi, tapi dari siapa yang merasa nyaman untuk duduk. Jangan bangga bilang ruangmu terbuka, jika ia hanya menyambut mereka yang tak punya beban sosial. Ramah itu bukan berarti semua perempuan boleh masuk, tapi semua perempuan bisa merasa aman untuk tidak perlu pura-pura kuat saat duduk di dalamnya.

Similar Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *