Sastra Udang: Jejak Pertama Daffa Ramadhan di Dunia Buku

WarawaraID — Komunitas Sastra Lumpur menggelar bedah buku “Sastra Udang: Permulaan itu Nyata” di Aula Dewan Kesenian Sidoarjo, Sabtu (13/9/2025). Acara ini menghadirkan 35 peserta dari mahasiswa, warga, hingga pegiat sastra luar kota, yang semuanya antusias menyambut karya perdana Daffa Ramadhan.
Ketua Dewan Kesenian Sidoarjo, Ribut Wijoto, menyoroti adanya kontras antara judul dan isi buku. Menurutnya, pilihan kata udang sudah sangat melekat dengan identitas Sidoarjo, namun isi puisi justru banyak bernuansa religius dan reflektif. Ia mempertanyakan mengapa penulis memilih simbol lokal itu, sementara isi karyanya terasa lebih seperti renungan personal.
Daffa menanggapi dengan tenang. Ia menjelaskan bahwa latar belakangnya sebagai mahasiswa UINSA memang membentuk kecenderungan religius dalam menulis. Meski begitu, ia tetap ingin mengikat karyanya dengan tanah kelahiran. “Simbol udang adalah cara saya menghubungkan diri dengan Sidoarjo. Mau bagaimanapun, saya lahir di sini, dan buku ini saya persembahkan untuk kota ini,” jelasnya.

Lebih lanjut, Daffa juga mengungkap bahwa nama Sastra Udang lahir dari pertemuan dengan salah satu penggiat seni dan sastra, Sudrajat Kurniawan atau Jujut, saat ia bersilaturahmi ke Malang. Dari dialog itulah muncul gagasan bahwa dirinya, sebagai penulis dari Sidoarjo, perlu menghadirkan karya yang merepresentasikan daerah asalnya. “Saya ingin Sidoarjo hidup lewat karya nyata. Karena itu, peluncuran perdana buku ini saya pilih di Sidoarjo, tepatnya di Aula Dewan Kesenian Sidoarjo,” ungkapnya.
Diskusi pun berlangsung hidup. Beberapa peserta mengaku tertarik hadir justru karena penasaran dengan judul buku. Seorang di antaranya menyebut, “Saya ingin tahu apa makna udang di balik karya ini. Judulnya memancing rasa ingin tahu.”
Fathur ER, selaku pemantik, menilai dinamika tersebut sebagai bukti pentingnya forum bedah buku. Baginya, karya sastra memang harus dipertemukan dengan pembaca, dipertanyakan, bahkan digugat, agar makin menemukan relevansinya.
Selain sesi diskusi, acara juga diramaikan dengan pembacaan puisi dan penampilan dialog singkat dari anggota komunitas. Suasana yang terbangun terasa serius, namun tetap hangat dan penuh tawa.
Bagi Daffa, “Sastra Udang: Permulaan itu Nyata” adalah langkah awal untuk meneguhkan diri sebagai penulis muda. Ia berharap keberaniannya bisa menginspirasi generasi lain. “Ini permulaan saya, dan saya ingin membuktikan bahwa anak muda Sidoarjo juga bisa berkarya,” tuturnya.
