Duel Pistol Berakhir Pelukan: Studio Daluang Tafsirkan Ulang Ironi Anton Chekhov dalam ‘The Bear’

SURABAYA — Bagaimana mungkin dua orang yang saling menghina, saling mengancam, bahkan siap berduel dengan pistol, justru berakhir dalam pelukan? Pertanyaan itu menjadi inti ketegangan emosional dalam adaptasi “The Bear” yang dipentaskan Studio Daluang pada malam pergantian tahun Rabu, 31 Desember 2025 di Sheraton Surabaya Hotel & Towers.
Alih-alih sekadar menampilkan kisah cinta tak terduga, pementasan ini menyoroti betapa rapuh dan kontradiktifnya emosi manusia: marah bisa berbalik rindu, luka berubah menjadi ketertarikan, dan logika kalah oleh dorongan hati.
Cerita berpusat pada Yulina, janda muda yang hidup di mansion megah bergaya art deco. Masih terikat duka atas kematian suaminya, ia memilih menutup diri dari dunia. Kehadirannya yang anggun namun rapuh kontras dengan kedatangan Andri Grego, seorang mantan tentara yang kini bekerja sebagai penagih hutang. Kasar, tegas, dan emosional, Andri datang menuntut pelunasan utang sang mendiang memicu percakapan yang segera berubah menjadi pertengkaran penuh ledakan ego.
Situasi meluncur tak terkendali: hinaan berbalas hinaan, perasaan terpendam meledak, hingga keduanya siap berduel. Namun di titik paling panas, sesuatu yang aneh terjadi. Di balik kemarahan, Andri melihat keberanian Yulina; sementara Yulina membaca kejujuran emosional Andri. Benci yang menggelegak pelan-pelan bergeser menjadi ketertarikan liar. Lamaran mendadak pun terlontar, meninggalkan dilema bagi Yulina, marah sekaligus terpikat.

Ketika akhirnya mereka berpelukan, para pelayan, Kaul yang kalem seperti butler Inggris dan Leli yang lincah dari dapur, menjadi saksi ironi itu: dua orang yang nyaris saling membunuh justru jatuh cinta di tengah keheningan rumah mewah.
Studio Daluang menyajikan pertarungan batin ini melalui format mini musical performance, memadukan dialog, musik, dan humor halus. “Karya ini lebih dari ironi cinta; ia memperlihatkan ironi teater dan ironi manusia,” ujar Director Studio Daluang, Yusril Ihza F.A.. Menurutnya, Chekhov sejak awal menulis bukan tentang kejadian besar, melainkan tentang emosi sehari-hari yang tak selesai, dan justru di situlah letak ketegangan.
Anton Chekhov, pelopor realisme modern, dikenal menempatkan tokohnya dalam “keadaan tanpa aksi”, namun sarat gejolak batin. Dalam “The Bear”, judulnya menyimbolkan sifat Andri: kasar, spontan, agresif, tetapi diam-diam menyimpan sisi hangat. Kontras itu yang menyalakan komedi, sekaligus membuka pintu romansa yang tak direncanakan
.Adaptasi Studio Daluang tidak berhenti pada alur klasik. Mereka menggeser konteks agar terasa dekat dengan penonton Indonesia, terutama soal cara masyarakat memandang status janda: antara simpati, stereotip, dan tuntutan sosial. Yulina bukan sekadar sosok yang berduka, melainkan perempuan yang berjuang menegosiasikan harga diri, kenangan, dan keinginannya sendiri.
Simbol beruang tampak kuat di panggung: emosi yang garang namun menggemaskan, tidak pernah benar-benar jinak. Itulah yang menjadikan pementasan ini terasa relevan — karena setiap orang, pada titik tertentu, pernah dikuasai emosi yang sulit dijelaskan.
Bagi Yusril, keberanian terbesar “The Bear” justru ada pada keberpihakannya pada emosi yang ambigu. “Teater harus mampu mengikuti zaman, tapi esensinya tetap: mengajak kita bercermin pada diri sendiri,” tuturnya.

Pementasan ini sekaligus menunjukkan bahwa cerita klasik bisa tetap hidup jika ditafsirkan ulang tanpa kehilangan ruhnya. Dengan humor, ironi, dan ketegangan psikologis, Studio Daluang menyulap kisah abad lampau menjadi refleksi masa kini: cinta tidak selalu lahir dari kelembutan; terkadang, ia muncul dari benturan yang paling keras.
Sebagai penutup tahun, “The Bear” menghadirkan renungan senyap: manusia tidak selalu rasional, dan itulah yang membuat hidup, dan panggung teater, terus menarik untuk dipertontonkan.
