Mahkota Berbalut Tanggung Jawab: “Surabaya Art Prize 2026” dan Nafas Baru Ekosistem Seni Kota Pahlawan

Surabaya – Kancah seni rupa Jawa Timur baru saja mencatat sejarah baru yang patut dirayakan. Orasis Art Space sukses mempersembahkan ajang penghargaan “Surabaya Art Prize 2026”. Lebih dari sekadar selebrasi visual, inisiatif yang didukung penuh oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui skema Dana Indonesiana ini menjadi tonggak penting dalam memperkuat ekosistem kreatif. Langkah berani ini secara tak langsung menempatkan Surabaya sebagai salah satu pusat penting dalam peta praktik seni kontemporer di Indonesia.

Gemerlap 30 karya semifinalis kontemporer yang dipamerkan menarik utas perhatian utama tertuju pada satu penganugerahan prestisius: Lifetime Achievement. Penghargaan ini merupakan bentuk penghormatan tertinggi atas dedikasi, integritas, serta kontribusi jangka panjang para seniman dalam mengembangkan ekosistem seni rupa di Surabaya dan sekitarnya. Tahun ini, penghargaan tersebut diberikan kepada empat tokoh lintas disiplin yang meliputi seniman, penulis, dan patron seni yang masing-masing menerima apresiasi senilai Rp10.000.000.
Apresiasi setinggi-tingginya patut disematkan kepada Orasis Art Space dan kolaborasi erat bersama berbagai stakeholder. Kehadiran Board of Nominators yang diisi oleh tokoh-tokoh seperti Dadang Rukmana, Elizabeth, Heti Yunani Palestina, Rina Wahyuni, dan Wicaksono Adi membuktikan ketatnya standar dan pemahaman mendalam yang dibangun dalam ekosistem ini.
Namun, di balik euforia penganugerahan berlabel “Surabaya” ini, terselip narasi dan harapan yang jauh lebih berbobot. Menjadi penerima penghargaan seumur hidup nyatanya bukanlah sebuah garis finis untuk bersantai menikmati ketenaran masa lalu. Sebaliknya, penganugerahan ini adalah sebuah “beban” mulia.

Seperti yang tergambar dari diskusi para nominator, kriteria pemenang tidak sekadar diukur dari popularitas atau rekam jejak pameran. Mereka yang terpilih adalah sosok-sosok yang dianggap memiliki “surplus” dalam berkesenian. Mereka dititipkan tanggung jawab untuk terus berkontribusi dan wajib menjadi “pupuk” yang menyuburkan generasi seniman berikutnya.
Keberdampakan nyata terhadap ekosistem seni di Surabaya ini dituntut dalam berbagai bentuk dedikasi, pertama, Melahirkan kekaryaan yang secara persisten dan konsisten terus berevolusi. Kedua, turut andil dalam pendidikan seni, baik melalui jalur formal maupun informal, guna mentransfer keilmuan. Ketiga, elakukan upaya dokumentasi yang teliti agar rekam jejak kesenian kota ini tidak menguap ditelan zaman.

Kiprah sepanjang hayat inilah yang menjadi bukti nyata bahwa seniman yang sejati tak pernah benar-benar pensiun dari usahanya menghidupi dan membentuk ekosistem. Tanggung jawab besar ini tentu tidak bisa dipikul oleh seniman seorang diri. Narasi yang terbangun dalam penganugerahan ini turut menyoroti urgensi hadirnya campur tangan pemangku kebijakan. Ekosistem seni di Surabaya sangat perlu diangkat dan dibina lebih serius, salah satunya melalui pembentukan regulasi pemerintah daerah yang benar-benar berpihak pada kesejahteraan dan perlindungan seniman. Komitmen Orasis Art Space melalui program ini diharapkan dapat berkontribusi pada terbentuknya ekosistem seni yang lebih terbuka, dinamis, dan kontekstual.
